Analisa, Opini

Asmat dan Darurat Kesehatan Papua

 

Potret anak-anak Asmat. Foto: Pit Supardi/honaicenter

Derita orang Papua tidak pernah surut. Isak tangis duka terus mengalir. Bukan saja karena kekerasan aparat negara yang berujung pada kematian orang Papua, melainkan peristiwa kematian orang-orang Papua terjadi pada hampir semua sektor kehidupan. Kematian demi kematian tersebut terus memantik kekhawatiran akan adanya genoside sistemik yang dikenal dengan istilah “Slow Motion Genocide”.

Kejadian demi kejadian, seperti kematian secara misterius, tabrak lari, kecelakaan, kematian akibat kelalaian sistem medis hingga kejadian luar biasa (KLB) pun terus terjadi di bumi Papua. Rentetan peristiwa kematian itu selalu menimbulkan tanda tanya bagi rakyat Papua dan dunia internasional akan keseriusan pemerintah memperhatikan hak-hak hidup orang Papua dan pemenuhan kesehatan, keamanan, serta keselamatan hidup orang Papua sejak integrasi ke dalam Republik Indonesia.

Papua Darurat Kesehatan

Pada tahun 2015-2017 SKPKC Fransiskan Papua telah merilis data masalah kesehatan yang berujung pada simpulan “Papua Darurat Kesehatan”. Menurut data ini telah terjadi KLB yang berujung kematian akibat kelalaian pemerintah melalui sistem pelayanan kesehatan yang buruk di beberapa wilayah. Di Kabupaten Deiyai dilaporkan 31 balita meninggal dunia (data pihak gereja Katolik setempat), sedangkan menurut data tim Dinas Kesehatan Papua berjumlah 40 orang balita[1].

Anak-anak sekolah di Asmat. Foto: Pit Supardi/honaicenter

Walaupun kasus kematian tersebut termasuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa namun hingga kini etiologi KLB ini masih simpang siur. Dari laporan yang sama, di Kabupaten Lanny Jaya juga terjadi musibah serupa yang menimpa masyarakat dengan beragam usia, yang telah merengut nyawa sebanyak 37 orang pada bulan Januari-Mei 2017, sementara data korban dari tim koalisi investigasi korban berjumlah 19 orang. Penyebab pada kasus di Lanny Jaya hingga kini masih misterius, walaupun diduga disebabkan oleh air yang tercemar agen patogenik tertentu.

Sebelumnya, tahun 2015 lalu, di Kabupaten Nduga Papua, masyarakat Ndugama harus berduka karena sekitar 66 Balita meninggal dunia karena terserang penyakit. Diduga serangan wabah Pertusis[2]. Hingga detik ini, perhatian publik terhadap kasus ini terlupakan, etiologi penyakitnya pun masih belum jelas. Berikutnya pada tahun 2017 kembali terjadi KLB di Distrik Inikggal, Kabupaten Nduga yang merengut 27 nyawa balita dengan suspect serangan wabah Pertusis sejak Agustus-September 2017[3]. Kasus ini juga luput dari perhatian publik.

Selanjutnya ada kasus Korowai yang sempat menarik perhatian publik Papua hingga internasional. Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan Rimba Papua menyebutkan 64 orang di Seradala, Korowai, Kabupaten Yahukimo meninggal dunia. Kematian ini terjadi karena tidak adanya pelayanan kesehatan yang memadai. Total korban 64 orang di atas terdiri dari 18 orang perempuan dan 46 laki-laki.[4] Selain itu, kita sempat digemparkan dengan penyakit yang menimpa anak Puti Hatil (3 tahun) yang diduga menderita penyakit Noma[5]. Noma adalah salah satu penyakit langkah di Indonesia. Penyakit ini paling rentan terjadi di Afrika akibat kekurangan gizi.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut, total berjumlah 234 orang meninggal yang didominasi oleh balita dalam kurun waktu hanya 3 tahun akibat KLB. Jumlah ini akan bertambah jika dikalkulasikan dengan berbagai kematian mendadak yang tidak pernah dipublikasi dan luput dari perhatian publik. Apalagi yang meninggal akibat miras dan HIV/AIDS, penyakit akut dan kronik di berbagai rumah sakit di Papua.

Kasus terkini adalah kematian 67 Balita di Asmat yang diduga meninggal akibat gizi buruk dan campak. Menanggapi peristiwa ini Wapres RI, Jusuf Kalla pun angkat bicara dengan mengatakan wabah ini sebagai akibat kemiskinan, lingkungan dan gaya hidup masyarakat setempat. JK menyalahkan pemerintah daerah atas ketidakefektifan memanfaatkan anggaran yang besar bagi provinsi Papua[6].

Fasilitas Kesehatan yang Buruk

Sebagai salah satu faktor penyumbang masalah kesehatan, persepsi masyarakat Papua yang negatif terhadap kehadiran rumah sakit, Puskesmas, hingga Puskesmas Pembantu (Pustu) turut menjadi faktor penyebab tingginya angka mortalitas dan morbiditas di Papua. Selain itu masyarakat Papua di pedalaman masih mengalami trauma psikologis karena ‘memoria passionis’ tak pernah reda menyebabkan masyarakat tidak percaya dengan kehadiran tim-tim pelayanan kesehatan.

Di kalangan masyarakat, tidak sedikit yang memilih berobat ke dukun untuk mengobati sakit-penyakit mereka. Dalam buku Melawan Badai Kepunahan (2015), drg. Aloysius Giay menyebutkan ada lima faktor penyumbang kematian di Papua. Satu diantaranya adalah pemahaman sosial-budaya masyarakat (etnomedis); selain akibat faktor politik dan kekerasan negara, stres akibat Otsus, Miras dan KDRT. Dalam konteks persepsi masyarakat terhadap etnomedis ini, banyak masyarakat yang meninggal sia-sia akibat salahnya persepsi tentang sehat-sakit di Papua. Willem Bobii lewat bukunya Dukun Asmat (2017) juga sudah dengan jelas mengulas tentang praktek kepercayaan masyarakat Asmat tentang pola eradikasi penyakit mereka yang bernuansa etnomedis.

Ditinjau dari aspek sumber daya manusia di bidang kesehatan, drg. Aloysius Giay mengungkapkan terdapat 316 dokter umum, 85 dokter spesialis, 35 dokter Gigi yang semuanya hanya terfokus pada daerah ibukota Papua. Ia menilai jumlah tenaga kesehatan sangat terbatas[7]. Lalu, persoalan serius terkait pengadaan alat-alat medis yang sangat memprihatinkan. Misalnya, kondisi di RSUD Dok II Jayapura, sebuah rumah sakit yang menjadi rujukan nasional di wilayah Papua sangat menyedihkan. Antara lain, tidak adanya CT-Scan sebagai teknologi diagnosis mutakhir terhadap berbagai penyakit saraf dan kardiovaskular. Alat ini baru diadakan pada awal tahun 2017 silam pada masa kepemimpin Gubernur Lukas Enembe.

Kemudian beberapa fasilitas kamar operasi di RSUD Dok II yang selama ini dikeluhkan oleh sejumlah dokter spesialis seperti, CT Scan, Laparoskopi, Brankoskopi, Endoskopi, Mikroskop Mata, ESWL atau alat penghancur batu ginjal serta penambahan mesin hemodialisa atau cuci darah, yang awalnya berjumlah empat buah kini bertambah menjadi 12 buah. Selain itu, terdapat pula Instalasi Diagnostik Invasif dan Intervensi Jantung dan Pembuluh Darah yang dilengkapi Cath Lab atau Katerisasi Jantung dan Angiografi serta Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL) yang semuanya baru diadakan pada tahun ini.

Kegagalan Negara

Berbicara tentang realitas masalah Papua, tidak akan pernah berkesudahan. Persepsi dan tingkat kepercayaan masyarakat Papua terhadap negara saat ini rendah. Langkah dan tindakan pemerintah di Jakarta dalam krisis kesehatan di Papua tidak akan mengubah persepsi masyarakat tentang kegagalan negara di Tanah Papua.

Menurut saya persoalan Papua harus diselesaikan secara sistematis dan menyeluruh dengan menyentuh akar persoalannya. Saat ini, persoalan integrasi politik dan sosial Papua melahirkan pertentangan antara orang Papua, rakyat Papua dan negara. Sehingga, perlu sebuah dialog politik yang menyeluruh.

Dialog politik ini dilakukan untuk membangun kepercayaan bersama. Kepercayaan masyarakat Papua turut mempengaruhi upaya pemerintah melaksanakan program-program pembangunan, termasuk persoalan mendasar seperti kesehatan dan pendidikan. Bagi masyarakat Papua, berbagai peristiwa kematian anak-anak karena wabah penyakit adalah bagian dari kegagalan negara dalam melindungi, memenuhi, dan menjamin hak-hak rakyat Papua. (*)

Banyamin Lagowan adalah Mahasiswa Profesi Fakultas Kedokteran, Mantan Ketua BEM FK Uncen 2015-2016. Ia menulis buku Pergerakan Mahasiswa Kedokteran Papua: Potret Aktivisme di Fakultas Kedokteran Uncen (2016).

 

[1] Tim SKPKC Fransiskan Papua, 2017. Laporan Kesehatan, “Papua Darurat Kesehatan”. Jayapura Papua

[2] Https://kicknews.today/2016/01/11/kabupaten-nduga-papua-klb-penyakit-batuk-rejan

[3] Https://Suarapapua.Com/2017/09/27/27-Balita-Dilaporkan-Meninggal-Di-Distrik-Iniknggal-Kab- Nduga/

[4] Https://indoprogress.com/2017/06/derita-suku-korowai-di-rimba-papua/

[5] Https://papua.antaranews.com/berita/463152/dokter-menduga-pasien-dari-korowai-menderita- penyakit-noma

[6] Http://www.tribunnews.com/nasional/2018/01/17/kasus-campak-dan-gizi-buruk-di-asmat-ini-imbauan-jusuf-kalla-untuk-pemda-setempat

[7] Aloysius Giay, 2015, Melawan Badai Kepunahan, Gebrakan Papua Sehat Menuju Papua Bangkit Mandiri dan Sejahtera. Jayapura: Pakar Papua Pustaka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *