Opini

Tragedi Deiyai dan Kemerdekaan Indonesia

 

Solidaritas untuk tragedi kemanusiaan untuk Deiyai di Jayapura, Papua, 6 Agustus 2017. Foto istimewa/Arsip Honai Center

Pada 1 Agustus 2017 di Oneibo, kabupaten Deiyai, Papua kembali dikagetkan dengan kabar penembakan warga sipil yang dilakukan oleh aparat keamanan, satuan Brimob Polda Papua. Peristiwa tragis itu pecah pada momentum bulan Kemerdekaan Indonesia, yang diwarnai dengan penghamburan peluru timah panas yang diklaim sebelumnya oleh kepolisian dengan peluru karet.

Tentu ini menjadi catatan buruk dalam sejarah bangsa Indonesia yang merayakan hari kemerdekaannya ke-72 tahun. Sebab insiden ini banyak mengorbankan warga sipil setempat, yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui pendekatan damai secara manusiawi. Sedikitnya, delapan orang warga sipil pribumi atau orang asli Papua terkena peluru yang berujung pada kematian dan luka kritis. Satu orang atas nama Yulianus Pigay dikabarkan meninggal dunia. Sementara tujuh orang lainnya mengalami luka tembak dan kritis. Mereka itu adalah Delianus Pekei (30), Yohanes Pekei (35), Yunior Pakage (27), Melianus Dogopia (30), Yohanes Pakege, dan Deria Pakege.

Sekitar seminggu kemudian, seorang nelayan bernama Theo Cakatem tewas ditembak oleh aparat TNI di Pelabuhan Nusantara Paomako, Timika. Penembakan ini terjadi tepat pada Rabu, 9 Agustus 2017, pukul 14.30 siang waktu Papua. Dikabarkan bahwa korban berusia 20 tahun. Dia terpaksa meninggalkan keluarga pada bulan Agustus ini. Peristiwa ini merupakan bagian dari satu rentetan sejarah kekerasan bagi orang Papua.

Bagaimana pun, peristiwa berdarah ini menarik keprihatianan yang lebih luas. Apalagi tindakan ini dilakukan pada bulan Agustus yang disebut-sebut bulan Proklamasi Indonesia. Siapapun tidak akan melupakan, baik keluarga terdekat, orang asli maupun non Papua. Seperti nasehat peperangan orang Hugula, sebuah suku di Jayawijaya:

 “Nit apuni inyagarek waganu ilukh ewerek awiak logogup lek, mete nit nyamete wagana ilukh inyakla ewerek motok logogup atnaga”.

Artinya, kita mudah melupakan mengambil sesuatu milik orang, tetapi orang tidak akan lupa karena kita sudah mengambil sesuatu itu.

Perkara “Deiyai Berdarah” sulit dilupakan bagi keluarga dan pada umumnya orang Papua. Barangkali pelaku akan lupa, akan tetapi korban akan senantiasa ingat dalam sepanjang sejarah hidupnya. Pasca kejadian, darah dari insiden ini terus membakar semangat kemanusiaan yang lebih besar. Solidaritas kemanusiaan itu tampak dimana-mana.

Bisa lihat seantero tanah air Papua. Bagaimana dukungan keprihatinan mengalir di semua kota dan pelosok. Semua orang berlangsungkawa, kecuali mereka yang matanya buta, telinganya tuli dan jiwanya tidak miliki nilai kemanusiaan. Pangkuan pertiwi terus membanjiri dukungan kepeduliaan yang luar biasa. Semua orang serukan penuntasan kasus tanpa pandang status kekuatan dan kekuasaan.

Dukungan solidaritas tanpa batas terus mengalir. Mulai dari membuat status di jejaring sosial, petisi online, aksi demo damai dan pembakaran lilin. Di sejumlah daerah seperti di Jawa, Bali, Manado, Maluku dan dunia internasional menarik minat keprihatinan yang mendalam.

Bayangkan di luar saja sudah melakukan aksi solidaritas yang luar biasa, begitu juga di Papua dari Sorong sampai Merauke sangat berduka. Bagi orang Papua, tidak begitu banyak yang merasakan makna ulang tahun Negara di tahun ini. Sukacita kemerdekaan sama sekali tidak dinikmati baik. Tekanan dukacita lebih besar ketimbang damai yang diharapkan.

Soleman Itlay, aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *